Pedagang Pasar Ngawen Dapat Berjualan & Siap Pindah November
BloraAktual, Blora Jateng - Rehabilitasi Pasar Ngawen di Kabupaten Blora, Jawa Tengah, progesnya sudah mencapai 100 persen. Hal tersebut disampaikan oleh Bupati Blora Arief Rohman usai rapat koordinasi dengan Kementerian Pekerjaan Umum (PU) di Ruang Pertemuan Setda, pada Jumat (9/10/2026) siang.
"Kaitannya Pasar Ngawen ini tadi sudah disampaikan bahwa Pasar Ngawen prosesnya sudah 100 persen," jelas Arief.
Usai proyek pasar tersebut selesai dikerjakan, langkah selanjutnya adalah pelaksanaan berita acara serah terima (BAST) dari Kementerian PU kepada Pemkab Blora.
Arief memastikan para pedagang dapat kembali berjualan di Pasar Ngawen mulai November 2026 mendatang. "Targetnya November semoga sudah bisa ditempati" kata dia.
Sementara itu, perwakilan Satuan Kerja Pelaksanaan Prasarana Strategis Jawa Tengah (Satker PPS Jateng), Imam, mengamini bahwa proyek rehabilitasi Pasar Ngawen memang telah rampung. "Izin menyampaikan untuk yang Pasar Ngawen memang untuk saat ini progresnya sudah 100 persen," jelas Imam.
Ia juga menjelaskan penyebab proyek tersebut sempat mengalami keterlambatan dari target waktu pelaksanaan yang disepakati. "Dalam hal ini kan butuh kerapian-kerapian terkait perbaikan defect-defect list yang mungkin sambil paralel juga akan diserahterimakan pengelolaan sementaranya dari Satker PPS Jateng kemudian nanti diserahterimakan pengelolaan sementaranya kepada Pemkab Blora," terang dia.
Keluhan Pedagang Tiga Tahun Menanti Kepastian
Sebelumnya, proses rehabilitasi Pasar Ngawen yang sempat molor memaksa para pedagang berjualan di tempat seadanya pascakebakaran hebat pada Januari 2024 lalu. Salah seorang pedagang pasar, mina, mengaku belum mengetahui kepastian jadwal kepindahan. "Ya itu ya pindahnya kapan enggak tahu, belum tahu belum ada kabar," ucap mina, Rabu (7/10/2026). Ia mengeluhkan lokasi berjualan saat ini yang dinilai tidak layak karena sering terkena hujan dan polusi kendaraan.
"Sering kehujanan, banyak batuknya, banyak flunya kan motor pada lewat ya pas banyak uap motor yang masuk sini. Kadang orang beli enggak bisa mengantar langsung. Kadang kan dagangannya ada yang di rumah, kalau diambil kadang enggak mau gitu, jadinya jarang dapat uang," terangnya.
Senada dengan mina, pedagang pakaian bernama Danang terpaksa menyewa rumah senilai Rp 5 juta per tahun untuk tetap bisa berjualan. "Ini menyewa sendiri Rp 5 juta per tahun. Para pelanggan tetap mencari lagi, ambyar lagi," kata Danang.
Ia membandingkan biaya sewanya saat ini dengan retribusi perpanjangan hak guna bangunan di dalam pasar yang di bawah Rp 1,5 juta per tahun. Nanang berharap ketika pindah kelak, pedagang diizinkan langsung memasang bidak pembatas agar barang dagangan aman. "Harapannya ya sekali pindah bisa langsung dibangun bidak jadi barang aman gitu," tuturnya.
Beda Nasib Pedagang Bumbu dan Silsilah Proyek Rp 30 Miliar
Berbeda dari pedagang lain, pedagang bumbu dapur dan sayuran bernama Fatin mengaku omzetnya justru meningkat selama berjualan di luar pasar. Namun, ia tetap menghadapi kendala kerawanan barang hilang dan ukuran lapak baru yang lebih sempit. "Enggak ada keluhan kok enak di luar. Kita sudah nyaman tiga tahun di sini ya. Soalnya kan di sini kan pembelinya lumayan lah daripada di dalam. Kalau saya alhamdulillah ya omset naik. Tapi di luar rawan hilang juga, lebih aman di dalam," ucap Fatin.
Untuk diketahui, proyek rehabilitasi senilai Rp 30 miliar ini dikerjakan oleh PT Joglo Multi Ayu menggunakan anggaran APBN Kemen PU usai Pasar Ngawen terbakar pada 9 Januari 2024 dengan kerugian mencapai Rp 30,79 miliar. Proyek yang dimulai sejak 17 November 2025 tersebut sempat mengalami addendum perpanjangan waktu hingga 13 Agustus 2026 sebelum akhirnya pengerjaan fisik rampung total 100 persen.





















Tidak ada komentar